Economic Botany

, Volume 56, Issue 3, pp 271–284

The gaharu trade in Indonesia: Is it sustainable?

  • Tonny Soehartono
  • Adrian C. Newton
Research

DOI: 10.1663/0013-0001(2002)056[0271:TGTIII]2.0.CO;2

Cite this article as:
Soehartono, T. & Newton, A.C. Econ Bot (2002) 56: 271. doi:10.1663/0013-0001(2002)056[0271:TGTIII]2.0.CO;2

Abstract

When subjected to fungal attack, Aquilaria spp. (Thymelaeaceae) produce a fragrant resin that is traded internationally as gaharu. Socioeconomic aspects of the gaharu trade were investigated via interviews with collectors and local and international traders. In addition, the extent of local and international trade was evaluated by reference to official government statistics. Evidence that gaharu resources are declining was obtained from the personal experience of gaharu collectors, and official statistics relating to the declining number of gaharu export companies in operation. Traders also reported that the main source of gaharu has recently switched from Sumatra and Kalimantan to sources in eastern Indonesia (Maluku and Irian Jaya), a finding supported by official statistics. Disparities recorded between official figures for the price and volume of gaharu in local and international trade, supported by comments made by export traders, indicate that a high proportion of the more valuable, high-grade gaharu is traded illegally by personal transaction. Interviews with gaharu collectors indicated that traditional approaches to harvesting are declining, as more nonlocal people become involved in collection, leading to more intensive harvesting practices. Together, these findings suggest that the current Indonesian trade in gaharu is not sustainable.

Key Words

harvesting sustainability gaharu CITES NTFP 

Perdagangan gaharu di indonesia: Apakah dapat berkesinambungan?

Resumen

(Thymelaeaceae) jika terserang jamur menghasilkan resin berbau harum yang dikenal sebagai gaharu. Aspek sosial-ekonomi dari perdagangan gaharu di Indonesia ini diteliti melalui wawancara dengan para pengumpul, pedagang lokal dan pedagang internasional. Selain itu, perdagangan internasional juga dievaluasi berdasarkan angka statistik resmi. Bukti bahwa sumberdaya gaharu telah menurun diperoleh dari pengalaman para pengumpul gaharu dan statistik resmi, dikaitkan pula dengan menurunnya kegiatan ekspor gaharu. Para pedagang menyatakan bahwa sumber utama gaharu telah berpindah dari Sumatra dan Kalimantan ke lokasi di Indonesia bagian timur (Maluku dan Irian Jaya). Kenyataan ini juga didukung oleh data statistik. Adanya perbedaan antara data resmi untuk harga dan volume gaharu pada perdagangan lokal dan internasional, yang didukung oleh informasi dari eksportir, menunjukkan bahwa sebagian besar gaharu kualitas tinggi telah diperdagangkan secara ilegal melalui transaksi pribadi. Wawancara dengan pengumpul gaharu mengindikasikan pula bahwa pendekatan tradisional untuk memanen gaharu telah menurun dengan bertambahnya jumlah pendatang yang turut serta dalam pengumpulan, sehingga mengakibatkan pemanenan gaharu yang lebih intensif. Temuan penelitian ini membuktikan bahwa perdagangan gaharu Indonesia pada saat ini tidak lestari.

Copyright information

© The New York Botanical Garden Press 2002

Authors and Affiliations

  • Tonny Soehartono
    • 1
  • Adrian C. Newton
    • 3
  1. 1.Institute of Ecology and Resource ManagementUniversity of EdinburghEdinburgh
  2. 2.DG Forest Protection and Nature ConservationManggala Wanabakti Block VIIGatot SubrotoIndonesia
  3. 3.Institute of Ecology and Resource ManagementUniversity of EdinburghEdinburgh
  4. 4.UNEP-World Conservation Monitoring CentreCambridgeUK

Personalised recommendations